Jumat, 21 September 2007

Busana Tradisional Dayak Ngaju



Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini. Awalnya kulit kayu, lalu tenunan serat alam yang "kasar", kemudian kain tenun halus, kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional, semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju.

Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana.

Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. Celananya adalah cawat yang, ketika dikenakan, bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang, yang disebut ewah. Busana itu berwarna coklat muda, warna asli kayu, tak diberi hiasan, tak pula diwarnai, sehingga kesannya sangat alamiah.

Akan tetapi naluri berdandan, yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam, mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan), giwang (suwang), kalung, gelang, rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu, yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. Biji-bijian, kulit kerang, gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung, gelang dibikin dari tulang binatang buruan, giwang dari kayu keras, dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana.

Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka. Misalnya saja, warna hitam dari jelaga, warna putih dari tanah putih dicampur air, warna kuning dari kunyit, warna merah dari buah rotan.

Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna, bunga, dedaunan, akar pohon, burung, harimau akar, dan sebagainya, menjadi corak hias busana adat. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu, selain tampil artistik, pun punya makna simbolik. Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju, yang cenderung animistik, misalnya, melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga, manusia, dan sebagainya, yang bermakna sangat filosofis.

Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting - misalnya upacara tiwah, dalam kepercayaan Kaharingan, untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya, upacara meminta hujan, upacara pengobatan belian obat - kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. Selain itu, diatur pula pemakaian corak hias busana adat - berbeda untuk perempuan dan lelaki - bagi para pemuka kelompok, para tetua adat, panglima perang, kepala suku, dan ahli pengobatan.

Busana Jalinan Serat Alam

Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. Teknik menenun, konon, diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain", kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju, celana, ikat kepala, dan kelengkapan lainnya.

Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. Mereka kemudian melirik rotan, jenis rumputrumputan, akar tumbuhan, sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja, tapi diperluas untuk keperluan lainnya. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah, sumpit, dan tombak.

Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam, keramik, melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian, kayu, dan tulang. Selain untuk aksesori, manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. Akan tetapi, hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora, fauna, dan mitologi. Dan kini pucuk rebung, burung enggang, ular, harimau akar, manusia, awan, batang garing, tampil pula dalam ekspresi yang lain.

Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu, jalinan serat alam, berhiaskan gambar pewarna alam, dan aplikasi manik-manik dan arguci. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan, umpamanya saja, untuk kostum tarian, koleksi museum, atau cendera mata.

Busana Kain Tenun Halus

Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. Masyarakat Ngaju, terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan, memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Betapa tidak, karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra.

Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. Busana pengantin, pakaian acara-acara adat, kostum taritarian, dan sebagainya, kebanyakan dibuat dari kain beludru, satin, atau sutra. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau.

Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek, dari kain satin atau beludru, yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. Paduannya rok panjang sebatas betis, disebut salui, dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala, lawung bawi, dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik, dan anting-anting atau suwang.

Baju kaum lelaki disebut baju palembangan, model baju pria Melayu tapi berkerah, juga dari beludru atau satin. Pada kerah, ujung lengan baju, dan bagian dada, diberi hiasan. Celananya disebut selawar gobeh, celana panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya. Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam.

Penulis Aat Soeratin

AGAMA BUDDHA DAN DAYAK

pakah suku Dayak ada yang menganut agama Buddha? Jawabnya adalah ya! Ada orang-orang dalam suku Dayak menganut ajaran Buddha. Salah satu suku pribumi Kalimantan Barat khususnya Dayak Bukit/Kandayan telah mengenal Buddhisme. Berawal dari perkenalan dengan tokoh-tokoh Buddhis Kalimanan Barat di Pontianak yakni Bapak Cipta Wijaya Salim (almarhum), Aliong, A-Buai/lbu Ratna dan Lilianti. Dari beliau-beliau inilah sekitar 2000 jiwa masyarakat Dayak secara serempak menyatakan diri sebagai penganut Agama Buddha dan menyatakan berlindung pada Sang Triratna, peristiwa ini terjadi pada tahun 1991 di Desa Senakin.

Melihat perkembangan yang begitu pesat tokoh masyarakat Dayak yang telah menyatakan berlindung pada Triratna beserta tokoh-tokoh dari Pontianak menyatakan cita-citanya untuk mempunyai tempat ibadah, sehingga dapat melaksanakan ritual-ritual Buddhis bersama seperti agama-agama lainnya. Namun, saat itu kesulitan mendapatkan tempat/lahan untuk membangun sebuah vihara disertai kurangnya dana, maka cita-cita tersebut belum dapat direalisasi. Pada tahun 1992, seorang umat Buddha merelakan rumah yang dimilikinya untuk ditempati sementara dan dialihfungsikan sebagai vihara sementara. Dengan adanya vihara di Pontianak, pada saat itu semakin meningkatkan laju perkembangan Buddha Dhamma di Pedalaman Kalimantan Barat. Pembinaan pun dirasakan sangat baik, pada saat itu ditambah lagi dengan datang tokoh Buddhis dari Jakarta yakni Romo Purna Candra dan Romo Karuna Atmaja. Cita-cita yang tadinya pernah padam hidup kembali, namun cita-cita tersebut kembali buyar oleh karena sulitnya mendapatkan lahan yang tepat untuk pembangunan Vihara.

Pada tahun 1994, pembangunan baru dapat dilaksanakan setelah mendapatkan lahan seluas 300 m2 yang berasal dari hak hibah. Pada tahun 1994 diadakan Visudhi Upasaka/Upasika oleh tiga orang Romo, yakni Romo Karuna Atamaja, Romo Purna Candra dan Romo Sasana dari Jakarta yang mevisudhi Upaska/Upasika sebanyak 200 orang, dilaksanakan sesuai tradisi Tantra (Kasogatan). Dengan berakhirnya upacara Visudhi, mulai saat inilah pembinaan dirasakan semakin kurang dan umat disana harus berdiri di kakinya sendiri. Dengan pemahaman yang masih dangkal, yang hanya diperoleh melalui diklat-diklat selama semingggu di Kotamadya Pontianak akhirnya perkembangan Buddhisme menjadi terseok-seok. Sehingga pada tahun 1996-2002 Umat Buddha di pedalaman Kalimantan Barat, setengah dari jumlah yang ada pada saat itu berpindah ke agama lain, karena mereka memiliki pemahaman yang kabur tentang agama Buddha dan juga dikarenakan teror-teror yang dilakukan oleh oknum-oknum umat agama lain yang tidak bertanggung jawab.

Ajaran-ajaran Buddha dapat diterima ditengah masyarakat Dayak, karena kedekatan ajarannya dengan budaya Dayak, yaitu kesamaan dalam tradisi untuk tidak menghilangkan kehidupan makhluk sekecil apapun yang dikenal dengan nama “Balala”. Balala dilakukan saat musim membuka ladang akan tiba. Dalam kepercayaan adat Dayak juga dikenal adanya alam-alam lain diluar alam manusia dan kepercayaan adanya kelahiran kembali setelah kematian. lstilah Tuhan dalam kepercayaan Dayak dikenal dengan nama Pamma Jubatta. Jubatta tidak menciptakan manusia. Jubatta hadir hanya mengatur dan menguasai seluruh alam dan merupakan sosok yang sempurna. Namun tidak dapat dikatakan sebagai penyebab terjadi segala sesuatu yang terjadi di dunia. Manusia dalam kepercayaan Dayak diciptakan oleh makhluk diluar dunia yang ada saat ini. Terbentuknya manusia berada di suatu tempat yaitu Panara Subayatn (Surga) yang di lakukan oleh DA'NEK NANGE. Apabila mencermati kata DA'NEK NANGE, NEK NANGE bukanlah merupakan suatu pribadi, tetapi suatu kumpulan makhluk-makhluk yang bekerja sama dalam pembentukan manusia. Jadi penciptaan manusia bukanlah oleh suatu pribadi, tetapi lebih dekat dengan hukum-hukum alam yang digambarkan melalui orang-orang atau makhluk-makhluk Adi Kodrati. Disinilah titik ketertarikan orang-orang suku Dayak untuk memeluk agama Buddha.

ARUH ADAT MASYARAKAT DAYAK


Pesta Adat Aruh Baharin adalah salah satu tradisi masyarakat suku Dayak di desa Kapul dan desa Tabuan, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas suksesnya panen semua tanaman yang telah ditanam selama ini. Aruh Baharin berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dalam satu balai, rumah adat, atau tempat khusus yang dibuat untuk acara tersebut. Untuk kegiatan syukuran ini masyarakat melaksanakan pesta besar dengan memotong kambing atau kerbau yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai kegiatan ritual seperti melakukan batandik, bamamang dan bakapur sambil diiringi dengan tabuhan gendang

DESA BUDAYA PAMPANG KALIMANTAN TIMUR


Kawasan ini adalah Suku dayak dan Taman Budaya yang memperlihatkan kebudayaan dan kesenian Suku Dayak Asli seperti atraksi keseniaan, kerajinan dan lain-lain. Desa Pampang berdiri sekitar tahun 1973, dari perpindahan penduduk Desa Long Liis, Apokayan, Kabupaten Bulungan yaitu Jawi Ngau, Petingai, Taman Bulan, Taman Juli, Taman Ana, Palejo, Bit Imang.

Masing-masing membawa lima orang anggota, sehingga keseluruhan berjumlah 35 orang dari daerah asalnya mereka berjalan kaki menyusuri daerah Mahakam, kemudian singgah pada suatu daerah untuk bertani dan berpindah lagi hingga mencapai Desa pampang yang selanjutnya mereka anggap cocok untuk tempat bertani.

Setiap hari minggu dikawasan ini diadakan pertunjukan atau atraksi kesenian yaitu :
  • Kancet Lasan
  • Kancet Punan Lettu
  • Kancet Nyelama Sakai
  • Dance Hudog
  • Dance Manyam Tali
  • Dance Pamung Tawai
  • Dance Burung Enggang
  • Dance Leleng

Kalimantan Tengah

Penduduk asli Kalimantan Tengah adalah suku Dayak, suku ini merupakan masyarakat terbesar yang mendiami Propinsi Kalimantan Tengah bersama dengan berbagai suku lain di Indonesia.

Suku Dayak terbagi atas beberapa sub etnis yang masing-masing memiliki satu kesatuan bahasa, adat istiadat dan budaya. Sub-sub etnis tersebut antara lain Suku Dayak Ngaju (termasuk Bakumpai dan Mendawai), Ot Danum, Ma'anyan, Lawangan, Siang dan lain-lain.

Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah mempunyai sifat keterbukaan dan toleransi yang tinggi yang tercermin dalam falsafah Huma Betang. Huma Betang adalah rumah khas Kalteng, berupa rumah besar, dimana dalam satu rumah besar adat (Huma Betang) Dayak Kalimantan Tengah tersebut tinggal bersama-sama bebera pa keluarga dengan segala perbedaannya seperti status sosial, ekonomi maupun aga ma namun tetap hidup secara harmonis.

Sifat gotong royong dalam masyarakat suku Dayak masih tetap terpelihara terutama dalam gerak hidup bermasyarakat yang tercermin dari tradisi kerja Habaring Hurung, Handep dan Harubuh.

Berbagai ragam dan jenis kesenian tradisional yang masih terpelihara dalam kehidupan masyarakat di Kalimantan Tengah antara lain : Seni Tari, Seni Suara, Seni Rupa, Seni Ukir, dan Seni Anyam-anyaman. Seni Suara berupa lagu -lagu Daerah dikenal dengan istilah : Karungut, Kandan, Parung, Karinci Seni anyaman yang memiliki beragam corak terus dikembang oleh masyarakat sebagai kerajinan rakyat.

Kerajinan anyaman tersebut antara lain yang terbuat dari rotan, bambu, pandan dan purun. Disamping itu juga berkembang berbagai kerajinan etnik (tradisional) yang terbuat purun, getah nyatu serta bahan kayu. Seni ukir dapat disaksikan pada pembuatan benda-benda seperti Talawang (Peri- sai), bangunan Sandung, hulu dan sarung senjata khas Da- yak Mandau, patung (Sapundu) dan bangunan pada rumah rumah adat.

Disamping berbagai kerajinan Kalimantan Tengah juga kaya akan berbagai kegiatan upacara adat / ritual seperti Tiwah, Manyanggar, Mamapas Lewu (bersih desa), Mampakanan Sahur Parapah.Tiwah merupakan upacara ritual agama Kaharingan, yaitu mengantarkan arwah orang yang telah meninggal ke Lewu Tatau (sorga). Acara ini memakan waktu yang cukup lama sekitar satu bulan atau lebih.


Gambar: Huma betang (rumah panjang)






Gambar: Pakaian adat tradisional putri Dayak




Gambar: Sandung (tempat menyimpan tulang belulang orang mati)



REVIVAL FOR KALIMANTAN

REVIVAL FOR KALIMANTAN !!!